Suplemen untuk Lansia, Perlukah?

PENUAAN akan terjadi pada semua orang, namun bisa berbeda mekanismenya pada tiap individu. Stres yang dialami sepanjang hari dan juga perilaku tidak sehat sangat memengaruhi kesehatan tubuh. Tekanan yang dihadapi, baik berupa tekanan fisik seperti penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan, rokok, luka, udara panas dan sakit, maupun tekanan psikis berupa ujian, perceraian, pindah dan kematian orang yang dicintai, menyebabkan tubuh memberikan respons. Respons yang diberikan tubuh terhadap tekanan tersebut terjadi melalui serangkaian tahap-tahap fisiologis, menggunakan sistem saraf dan sistem hormonal untuk mempertahankan setiap organ tubuh dari kerusakan yang ditimbulkan tekanan tersebut.
Tekanan yang berkepanjangan atau stres berat akan menghabiskan cadangan yang ada di dalam tubuh dan menyebabkan tubuh menjadi lemah, tua dan rentan terhadap penyakit, terutama jika kegiatan fisik tidak dilakukan. Saat seseorang menjadi tua, kemampuan untuk beradaptasi terhadap gangguan internal maupun eksternal menurun, bahkan hilang. Jika penyakit menyerang, dapat menyebabkan orang yang berusia tua lebih rentan mengalami kematian dibandingkan dengan yang lebih muda, akibat kurangnya kemampuan beradaptasi ini.
Berbagai perubahan fisik dan psikis yang terjadi pada orang dewasa dan lanjut usia sangat memengaruhi kesehatan dan kemampuan metabolisme tubuh. Perubahan umumnya bersifat menurun dari kondisi sebelumnya. Kemampuan imunitas tubuh misalnya, dengan bertambahnya umur, maka sistem kekebalan tubuh akan menurun. Hal ini dipengaruhi defisiensi zat gizi. Sehingga kombinasi antara usia dan gizi salah menyebabkan orang tua menjadi sangat rentan terhadap penyakit. Malangnya, antibiotik sering tidak lagi efektif melawan infeksi pada orang-orang yang mengalami masalah pada sistem kekebalannya. Sebagai konsekuensinya, penyakit-penyakit infeksi merupakan penyakit penyebab kematian utama pada orang tua.
Selain masalah imunitas, perubahan fisik lainnya pada lansia adalah gangguan gastrointestinal (GI), di mana dalam saluran GI ini dinding usus kehilangan kekuatan dan elastisitas seiring bertambahnya umur. Masalah konstipasi menjadi empat kali lebih besar dibanding saat usianya lebih muda. Atropic gastritis merupakan kondisi yang umum terjadi pada lansia, dan mengakibatkan gangguan pencernaan dan penyerapan zat gizi, terutama vitamin B12, biotin, Ca dan Fe.
Dengan terjadinya perubahan-perubahan tersebut di atas, disertai dengan karakteristik lansia yang spesifik inilah, membuat produsen suplemen membidik pasaran lansia dengan mengeluarkan produk-produk suplemen yang diklaim dapat membuat awet muda, memperpanjang umur, meningkatkan daya tahan tubuh dan sejumlah klaim lainnya.
Yang akhirnya menjadi pertanyaan adalah seberapa besarkah kelompok lansia memerlukan suplemen dalam berbagai bentuknya? Pertanyaan lain yang muncul adalah jika memang memerlukan, suplemen apa yang dapat membantu meningkatkan kualitas kesehatan mereka? Seberapa banyak jumlah yang harus dikonsumsi? Dan dalam kondisi bagaimana kelompok usia tersebut harus mengonsumsi suplemen?
Kecukupan zat gizi
Kecukupan zat gizi pada lansia lebih rendah dari dewasa. Hal ini disesuaikan dengan perubahan fisiologis yang terjadi seiring dengan bertambahnya usia. Penambahan usia membuat perubahan perbandingan konsumsi makanan.
Adapun persentase kebutuhan zat gizi makro adalah 20%-25% protein, 20% lemak, dan 55%-60% karbohidrat. Asam lemak yang dikonsumsi sebaiknya yang memiliki kandungan asam lemak tak jenuh yang tinggi. Selain itu zat gizi yang banyak defisien pada lansia adalah vitamin B6, B12, folat, vitamin D dan kalsium.
Menyusun standar kecukupan gizi bagi kelompok dewasa dan lansia merupakan hal yang sulit, karena perbedaan individu akan semakin berat saat individu tersebut mengalami penuaan. Seseorang yang mengabaikan konsumsi sayuran dalam menu makanannya, semakin tua akan semakin mengalami masalah yang berhubungan dengan status gizi dan kesehatannya.
Ada juga yang menghindari susu dan produk olahannya -biasanya dilakukan wanita- maka juga akan mengalami masalah gizi, namun akan berbeda dengan orang sebelumnya tadi. Selain itu, saat seseorang menjadi tua, mereka menderita berbagai penyakit kronis, dan tentu saja konsumsi obat-obatan yang juga berbeda, di mana obat maupun penyakit yang dideritanya akan menyebabkan perbedaan zat gizi yang dibutuhkan.
Faktor lain yang juga tak kalah pentingnya adalah kondisi genetis yang menyebabkan kebutuhan zat gizi seseorang berbeda dengan orang lain. Karena itulah para peneliti sulit menetapkan standar kecukupan gizi individu dewasa dan lanjut usia. Bahkan sulit pula menetapkan definisi “penuaan yang sehat”.

Suplemen dan lansia
Suplemen yang banyak ditawarkan pada lansia umumnya adalah suplemen yang berkaitan dengan daya ingat, ketahanan tubuh, awet muda, mencegah penyakit dan memperpanjang umur. Dan kebanyakan dari mereka percaya dengan klaim yang ditawarkan para produsen suplemen ini. Suplemen untuk fungsi kognitif misalnya, merupakan jenis suplemen yang cukup menarik perhatian orang dewasa dan lanjut usia. Banyak sekali variasi suplemen yang diklaim berfungsi membantu meningkatkan fungsi kognitif ini. Beberapa di antaranya merupakan campuran vitamin dan mineral lengkap, atau hanya mengunggulkan satu jenis vitamin tertentu saja.
Lansia mungkin membutuhkan suplemen, mengingat kondisi mereka yang menurun, akan tetapi perlu diperhatikan secara saksama mengenai penggunaannya. Salah-salah akibatnya justru akan berbahaya bagi lansia itu sendiri. Suplemen yang disarankan untuk lansia mungkin lebih berupa suplemen makanan (nutraceutical) yang bersifat fungsional dalam meningkatkan stamina dan ketahanan tubuhnya. Atau mungkin akan lebih baik jika mengonsumsi makanan yang bersifat fungsional dengan kandungan antioksidan yang tinggi.
Perbaikan status gizi tubuh melalui makanan dan minuman dan ditambah dengan extra antioxidan merupakan benteng strategis dalam memperlambat proses penuaan. Antioksidan dapat diperoleh dengan mudah melalui konsumsi sayur-sayuran dan buah-buahan yang mencapai 400-800 gram/hari.
Zat gizi protein sebaiknya diperoleh melalui ikan, sedikit daging, telur dan susu, dan banyak kacang-kacangan. Karbohidrat sebaiknya bersumber dari bahan-bahan yang tidak murni seperti beras tidak sosoh, beras jagung, tepung terigu dari gandum utuh, singkong, ubi jalar, talas, pisang, dan sebagainya. Lemak diusahakan berasal dari lemak nabati yang cukup mengandung asam oleat, linoleat dan linolenat, yang banyak terdapat dalam jagung, kedele, alpukat. Namun, konsumsi karbohidrat dan lemak harus secukupnya saja, sehingga tidak menyebabkan kelebihan berat badan.
Makanan merupakan suplemen zat gizi untuk semua orang. Suplemen hanyalah sebagai suplemen. Ia tidak dapat menggantikan makanan. Untuk orang-orang yang memiliki keinginan untuk mencapai kondisi kesehatan optimal, tidak ada istilah terlambat untuk memulai hidup sehat, yaitu makan dengan benar, minum air, olah raga teratur dan gaya hidup sehat lainnya, demikian juga dengan lansia.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: